{"id":5728,"date":"2025-08-13T08:49:47","date_gmt":"2025-08-13T08:49:47","guid":{"rendered":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/?p=5728"},"modified":"2025-08-13T08:49:51","modified_gmt":"2025-08-13T08:49:51","slug":"manuk-si-nanggur-dawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/?p=5728","title":{"rendered":"Manuk Si Nanggur Dawa"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/ceritarakyat.shop\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/manuk-si.png\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"770\" height=\"514\" src=\"https:\/\/ceritarakyat.shop\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/manuk-si-770x514.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5729\"\/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p>Tersebutlah permaisuri Inang Seribu Tua yang hidup di kayangan. Pada suatu hari secara tiba-tiba permaisuri itu melahirkan seorang putera yang dinamainya Tuan Bagunda Raja. Orang banyak tidak mengetahui siapa suami Inang Seribu Tua dan oleh sebab itu dipastikan orang bahwa Tuan Bagunda Raja adalah anak Dewa. Beberapa tahun kemudian Tuan Bagunda Raja sudah meningkat dewasa. Hal ini menimbulkan pikiran pada ibunya bahwa anaknya itu sudah waktunya untuk dicarikan jodoh. Dipanggilnya anaknya itu dan disampaikannya maksud hatinya. Tuan Bagunda Raja setuju dengan maksud ibunya, hanya saja dimintanya agar yang akan dikawininya itu haruslah salah seorang dari anak pamannya.&nbsp; Si ibu menjawab bahwa dia tidak ada mempunyai saudara seorang jua pun, sehingga dengan demikian tak mungkin anaknya itu kawin dengan anak pamannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Si anak yang menaruh curiga terhadap perkataan ibunya meminta agar diberi sekapur sirih. Setelah ibunya membuatkan<\/p>\n\n\n\n<p>yang dimintanya itu berangkatlah Tuan Bagunda Raja masuk hutan. Di sebuah tempat ditanamnya sebatang bambu sambil berdoa:&nbsp; &#8220;Bambu inilah yang akan menjadi bukti apakah yang dikatakan ibuku itu benar atau tidak. Jika kata-kata ibuku itu benar janganlah engkau tumbuh, tapi jika kata-kata ibuku itu tidak benar tumbuhlah engkau dengan subur. Rebungmu, kulitmu, cabangmu dan daunmu yang tumbuh nanti hendaknya mengandung keterangan untukku. Beberapa tahun kemudian Tuan Bagunda Raja datang kembali untuk melihat bambu yang ditanamnya itu. Ternyata rebungnya, kulitnya,&nbsp; cabangnya, dedaunnya mengandung tulisan yang menerangkan bahwa ibunya banyak mempunyai saudara.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah diketahui oleh Tuan Bagunda Raja hal yang seperti itu, pulanglah dia ke rumah orangtuanya. Kepada ibunya dikatakannya apa-apa keterangan yang diperdapatnya dari bambu tersebut. lbunya tak dapat menjawab apa-apa kecuali berdiam diri. Keduanya bersepakat untuk meminta datang bengkila dari Tuan Bagunda Raja (bengkila-suami adik perempuan ayah) agar turut menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi. Setelah makan dan minum bersama-sama bengkilanya itu, berkata katalah Tuan Bagunda Raja tentang niat ibunya yang hendak mengawinkannya. Dijelaskannya bahwa sebagai syarat adalah puteri yang akan dikawininya itu hendaklah salah seorang anak pamannya. lbu yang pada mulanya mengaku tidak mempunyai seorang saudara pun, ternyata sesudah diselidiki banyak saudaranya.&nbsp; Pembuktiannya diperoleh melalui pohon bambu yang ditanam dan tulisan yang muncul dari rebung, kulit, cabang dan daun itu. Si ibu terpaksa mengakui kebenaran kata-kata anaknya itu. Dijelaskannya kenapa dia mengatakan tidak mempunyai saudara karena memang saudaranya sangat banyak sehingga akan menimbulkan kesulitan untuk memilih anak yang mana akan di ambil.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesudah&nbsp; mendengar&nbsp; keterangan&nbsp; ibunya&nbsp; itu,&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda Raja tetap tidak berubah pendiriannya. Kepada ibunya dimintanya agar&nbsp; membuatkan&nbsp; cimpa&nbsp; (sejenis&nbsp; makanan&nbsp; dengan&nbsp; bahan-bahannya&nbsp; terdiri&nbsp; dari&nbsp; dua&nbsp; belas&nbsp; macam&nbsp; tepung&nbsp; beras&nbsp; wangi dicampur&nbsp; dengan&nbsp; labu&nbsp; kuning&nbsp; dan&nbsp; labu&nbsp; putih),&nbsp; untuk&nbsp; nantinya iciptakan sebagai pembantunya dalam perjalanan mencari jodoh. Inang&nbsp; Seribu&nbsp; Tua&nbsp; segera&nbsp; membuatkan&nbsp; cimpa&nbsp; itu&nbsp; yang&nbsp; oleh&nbsp; Tuan Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; kemudian&nbsp; dibentuknya&nbsp; menjadi&nbsp; seekor&nbsp; ayam, diberinya nama Si Nanggur Dawa. Setelah&nbsp; sempurna&nbsp; kejadian&nbsp; ayam&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa diperintahkan oleh Tuan Bagunda Raja untuk&nbsp; mencari gadis yang pantas&nbsp; untuk&nbsp; menjadi&nbsp; permaisuri&nbsp; negeri&nbsp; Sibolangit&nbsp; (kayangan).<\/p>\n\n\n\n<p>Negeri&nbsp; yang&nbsp; pertama&nbsp; yang&nbsp; dikunjungi&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; ialah Agoni.&nbsp; Kedatangan&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; yang&nbsp; disertai&nbsp; bunyi&nbsp; hingar-bingar&nbsp; mengejutkan&nbsp; penduduk&nbsp; negeri&nbsp; Agoni.&nbsp; Masing-masing&nbsp; ke luar&nbsp; dari&nbsp; rumahnya&nbsp; ingin&nbsp; mengetahui&nbsp; apa&nbsp; yang&nbsp; terjadi&nbsp; namun puteri&nbsp; raja&nbsp; Agoni&nbsp; belum&nbsp; juga&nbsp; keluar.&nbsp; Kemhali&nbsp; si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa membuat&nbsp; suara&nbsp; yang&nbsp; hingar-bingar&nbsp; dan&nbsp; kali&nbsp; ini&nbsp; keluarlah&nbsp; tuan puteri dari rumahnya. Saat itu&nbsp; digunakan&nbsp; oleh&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; untuk memperhatikan&nbsp; pantas&nbsp; tidaknya &nbsp;puteri&nbsp; tersebut&nbsp; untuk&nbsp; jodoh tuannya. Diketahuinya rambut puteri itu keriting, maka dinilainya itu&nbsp; sebagai&nbsp; salah&nbsp; satu&nbsp; cacat&nbsp; dari&nbsp; puteri&nbsp; tersebut.&nbsp; Ia&nbsp; pun&nbsp; pulang dan melaporkan cacat tuan puteri itu kepada Tuan Bagunda Raja, yang&nbsp; menyetujui&nbsp; penilaian&nbsp; tersebut.&nbsp; Beberapa&nbsp; hari&nbsp; kemudian&nbsp; Si Nanggur Dawa mendapat tugas lagi untuk pergi ke tanah Daksina melanjutkan&nbsp; tugasnya&nbsp; semula,&nbsp; Hal&nbsp; yang&nbsp; sama&nbsp; dilakukannya&nbsp; di&nbsp; negeri&nbsp; Daksina,&nbsp; sehingga&nbsp; semua&nbsp; orang&nbsp; di&nbsp; negeri&nbsp; itu&nbsp; berkeluaran dari&nbsp; rumahnya&nbsp; masing-masing,&nbsp; kecuali&nbsp; tuan&nbsp; puteri&nbsp; negeri Daksina.&nbsp; Untuk&nbsp; itulah&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; mengulangi&nbsp; membuat suara hingar-bingar sehingga tuan puteri itu pun akhirnya keluar juga.&nbsp; Diperhatikannya&nbsp; tuan&nbsp; puteri&nbsp; itu,&nbsp; dilihatnya&nbsp; tumitnya berpusar&nbsp; tidak&nbsp; seperti&nbsp; gadis&nbsp; yang&nbsp; biasa.&nbsp; Pulanglah&nbsp; ayam&nbsp; itu menemui&nbsp; tuannya&nbsp; dan&nbsp; melaporkan&nbsp; pula&nbsp; cacat&nbsp; tuan&nbsp; puteri&nbsp; yang dilihatnya itu, yang oleh Tuan Bagunda Raja pun disetujui. Negeri&nbsp; yang&nbsp; ketiga&nbsp; yang&nbsp; akan&nbsp; dikunjungi&nbsp; oleh&nbsp; Si&nbsp; Nanggur Dawa &nbsp;ialah&nbsp; Manganbia.&nbsp; Di&nbsp; sana&nbsp; dijumpainya&nbsp; puteri&nbsp; yang&nbsp; cantik tapi hanya saja ada cacatnya, yaitu bahunya curam. Kembali lagi ayam&nbsp; itu&nbsp; melaporkan&nbsp; penglihatannya&nbsp; itu&nbsp; kepada&nbsp; Tuan&nbsp; Bangunda Raja. Seperti&nbsp; halnya&nbsp; dengan&nbsp; penilaian sebelurnnya, penilaian kali ini pun diterima oleh tuannya itu. Negeri berikutnya ialah Pustima dengan&nbsp; puteri&nbsp; rajanya&nbsp; yang&nbsp; cantik&nbsp; namun&nbsp; cacat&nbsp; nya&nbsp; ada&nbsp; juga, yakni&nbsp; dagunya&nbsp; berparit.&nbsp; Cacat&nbsp; ini&nbsp; pun&nbsp; ketika&nbsp; dilaporkannya kepada tuan nya mendapat persetujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan&nbsp; berikutnya&nbsp; ialah&nbsp; negeri&nbsp; Arita.&nbsp; Puteri&nbsp; negeri&nbsp; itu menurut&nbsp; ayam&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; memang&nbsp; pantas&nbsp; menjadi permaisuri&nbsp; negeri&nbsp; Sibolangit.&nbsp; Namun&nbsp; setelah&nbsp; diamat-amatinya dengan&nbsp; teliti&nbsp; timbul&nbsp; juga&nbsp; keberatan&nbsp; di&nbsp; hatinya.&nbsp; Hal&nbsp; yang memberatkan&nbsp; situ&nbsp; adalah tuan puteri itu tidak mempunyai payudara. Kembali Si Nanggur Dawa&nbsp; melapor&nbsp; kan&nbsp; perjalanannya kepada&nbsp; tuannya&nbsp; sambil&nbsp; menyebutkannya&nbsp; cacat&nbsp; yang&nbsp; ada&nbsp; pada tuan puteri raja Arita.<\/p>\n\n\n\n<p>Tugas&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; kali&nbsp; ini&nbsp; ialah&nbsp; mengunjungi&nbsp; negeri Utara untuk menyelidiki tuan puteri di negeri itu. Dilihatnya tuan puteri negeri&nbsp; Utara&nbsp; memang&nbsp; cantik dan sesuai menjadi&nbsp; pasangan Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; sebagai&nbsp; pemaisuri&nbsp; negeri&nbsp; Sibolangit.&nbsp; Diamat-amatinya dengan teliti akhirnya terlihat juga cacat tuan puteri itu, yakni&nbsp; bertahi&nbsp; lalat&nbsp; matanya.&nbsp; Hal&nbsp; ini&nbsp; pun&nbsp; dilaporkannya&nbsp; kepada Tuan Bagunda Raja yang juga sepakat atas pendapat suruhannya itu. Daerah&nbsp; berikutnya&nbsp; ialah&nbsp; tanah Arisen. &nbsp;Ternyata&nbsp; puteri&nbsp; negeri itu cukup cantik. Tapi setelah diselidikinya lebih jauh ternyata ada juga cacatnya&nbsp; yakni&nbsp; cekung&nbsp; bahunya.&nbsp; Cacat&nbsp; ini&nbsp; pun disampaikannya&nbsp; kepada&nbsp; tuannya.&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; sesuai dengan pe nilaian ayam Si Nanggur Dawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah&nbsp; melepaskan&nbsp; letih&nbsp; beberapa&nbsp; hari&nbsp; lamanya&nbsp; ayam&nbsp; Si Nanggur Dawa mendapat tugas baru untuk berkunjung ke negeri Purba.&nbsp; Puteri&nbsp; raja&nbsp; negeri&nbsp; itu&nbsp; bernama&nbsp; Turang&nbsp; Beru&nbsp; Karo.&nbsp; Seperti halnya di negeri-negeri sebelurnnya di negeri Purba kedatangan Si Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; mengejutkan&nbsp; orang&nbsp; banyak.&nbsp; Tuan&nbsp; puteri&nbsp; yang paling&nbsp; akhir&nbsp; keluar&nbsp; hendak&nbsp; mengetahui&nbsp; apa&nbsp; yang&nbsp; mengejutkan orang&nbsp; banyak&nbsp; itu.&nbsp; Turang&nbsp; Beru&nbsp; Karo&nbsp; yang&nbsp; lebih&nbsp; dikenal&nbsp; dengan gelar&nbsp; Guru&nbsp; Melaga&nbsp; Kata&nbsp; ke&nbsp; luar&nbsp; dari&nbsp; rumahnya &nbsp;sambil&nbsp; menyisir rambut, dan diketahuinya bahwa orang banyak sedang berkumpul menyaksikan&nbsp; kedatangan&nbsp; ayam&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa. Kesempatan&nbsp; ini&nbsp; digunakan oleh ayam&nbsp; itu&nbsp; untuk mengamat amati puteri&nbsp; raja&nbsp; tersebut&nbsp; dengan&nbsp; seksama.&nbsp; Menurut&nbsp; penilaiannya&nbsp; diantara&nbsp; semua&nbsp; puteri&nbsp; yang&nbsp; sudah&nbsp; dilihatnya&nbsp; puteri&nbsp; raja&nbsp; Purbalah yang&nbsp; paling&nbsp; cantik,&nbsp; dengan&nbsp; demikian&nbsp; puteri&nbsp; inilah&nbsp; yang&nbsp; paling pantas untuk jodoh tuannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan perasaan gembira pulanglah suruhan itu menjumpai Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja.&nbsp; Dilaporkannya&nbsp; semua&nbsp; penilaiannya&nbsp; tentang tuan&nbsp; puteri&nbsp; raja&nbsp; Purba&nbsp; yang&nbsp; dikatakannya&nbsp; tidak&nbsp; ada&nbsp; cacatnya sedikitpun.&nbsp; Ketika&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; menanyakan&nbsp; tanda-tanda apa&nbsp; yang&nbsp; dibawa&nbsp; tentang&nbsp; tuan&nbsp; puteri itu&nbsp; ayam&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa mengakui&nbsp; bahwa&nbsp; itu&nbsp; memang&nbsp; tak&nbsp; ada&nbsp; dibawanya.&nbsp; Untuk mendapatkan&nbsp; tanda-tanda itu ia&nbsp; kembali&nbsp; lagi&nbsp; terbang&nbsp; ke&nbsp; negeri Purba. Di sana&nbsp; ia&nbsp; berhasil lagi berjumpa dengan&nbsp; tuan&nbsp; puteri yang kebetulan sedang&nbsp; menyisir&nbsp; rambutnya.&nbsp; Tanpa&nbsp; setahu&nbsp; tuan&nbsp; puteri itu&nbsp; dapat&nbsp; diambilnya&nbsp; selembar&nbsp; rambut&nbsp; tuan&nbsp; puteri&nbsp; itu&nbsp; dan dibawanya&nbsp; sebagai&nbsp; tanda&nbsp; kepada&nbsp; tuannya.&nbsp; Sesampainya&nbsp; di Sibolangit&nbsp; diserahkannya&nbsp; tanda&nbsp; itu&nbsp; kepada&nbsp; Tuan&nbsp; Baginda&nbsp; Raja yang&nbsp; kemudian&nbsp; menimbang&nbsp; berat&nbsp; rambut&nbsp; itu.&nbsp; Ternyata&nbsp; beratnya sama&nbsp; dengan&nbsp; satu&nbsp; mayam&nbsp; emas.&nbsp; Ini&nbsp; dianggap&nbsp; sebagai&nbsp; pertanda oleh Tuan Bagunda Raja bahwa yang empunya rambut itu adalah sangat tepat untuk menjadi permaisurinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa hari sesudah itu ayam Si Nanggur Dawa ditugaskan untuk pergi ke negeri Purba kembali dalam usaha meminang tuan puteri. Kepergiannya&nbsp; kali&nbsp; ini&nbsp; disertai&nbsp; oleh segenap&nbsp; keluarga&nbsp; Tuan Bagunda Raja.&nbsp; Setibanya&nbsp; di&nbsp; negeri&nbsp; itu&nbsp; mereka langsung menemui raja Purba yang bernama&nbsp; Melaga&nbsp; Kata. Raja tersebut menyatakan persetujuannya&nbsp; atas&nbsp; maksud&nbsp; kedatangan&nbsp; utusan&nbsp; raja&nbsp; Sibolangit dan saudara-saudaranya. Hanya saja dimintanya agar hal tersebut disampaikan&nbsp; secara&nbsp; langsung&nbsp; kepada&nbsp; tuan&nbsp; puteri.&nbsp; Pihak&nbsp; tuan puteri pun&nbsp; sependapat dengan ayahnya bahwa dia bersedia kawin dengan Tuan Bagunda Raja. Pada&nbsp; hari&nbsp; baik&nbsp; dilangsungkanlah&nbsp; perkawinan&nbsp; antara&nbsp; Tuan Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; dengan&nbsp; puteri&nbsp; raja&nbsp; Purba&nbsp; secara&nbsp; besar-besaran sesuai&nbsp; dengan&nbsp; adat&nbsp; raja-raja.&nbsp; Setelah&nbsp; beberapa&nbsp; hari&nbsp; perkawinan berlangsung berkatalah raja Purba meminta agar menantunya itu mau tinggal bersama-sama di negeri Purba untuk beberapa waktu lamanya.&nbsp; Permintaan&nbsp; itu&nbsp; disetujui&nbsp; oleh&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja. Semua&nbsp; sanak&nbsp; saudaranya&nbsp; minta&nbsp; diri&nbsp; untuk&nbsp; pulang&nbsp; terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa&nbsp; waktu&nbsp; kemudian&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; mengatakan kepada permaisurinya agar mau&nbsp; bersama-sama kembali&nbsp; ke negeri Sibolangit, mengingat&nbsp; bahwa&nbsp; kerajaannya&nbsp; sudah&nbsp; terlampau&nbsp; lama ditinggalkan. Kedua&nbsp; suami&nbsp; isteri&nbsp; itu&nbsp; bersepakat untuk berangkat, hanya saja kepergian mereka&nbsp; itu&nbsp; tanpa&nbsp; setahu raja Purba. Hal ini menimbulkan perasaan yang&nbsp; kurang menyenangkan di pihak raja Purba.&nbsp; Sudah&nbsp; tiga&nbsp; tahun&nbsp; lamanya&nbsp; mereka&nbsp; membentuk&nbsp; rumah tangga namun perkawinan mereka belum juga membuahkan hasil. Hal &nbsp;ini&nbsp; menimbulkan&nbsp; kegelisahan&nbsp; pada&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja. Kegelisahannya&nbsp; itu&nbsp; disampaikannya&nbsp; kepada&nbsp; seluruh&nbsp; kaum familinya.&nbsp; Seluruh&nbsp; yang&nbsp; hadir&nbsp; tidak&nbsp; dapat&nbsp; memberikan&nbsp; jawahan atas&nbsp; sebab-sebab&nbsp; kegelisahan&nbsp; itu.&nbsp; Untuk&nbsp; mengatasi&nbsp; itu&nbsp; mereka bersepakat&nbsp; untuk&nbsp; minta&nbsp; bantuan&nbsp; seorang&nbsp; dukun.&nbsp; Menurut penglihatan dukun ada pun yang menjadi sebab dari tidak adanya keturunan&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; ialah&nbsp; kesalahannya&nbsp; terhadap kalimbubu&nbsp; (pihak&nbsp; mertua)&nbsp; di&nbsp; negeri&nbsp; Purba&nbsp; yang&nbsp; dilakukannya pada&nbsp; waktu&nbsp; ia&nbsp; meninggalkan negeri&nbsp; itu&nbsp; tanpa&nbsp; pamit.&nbsp; Penglihatan dukun&nbsp; itu&nbsp; dibenarkan&nbsp; oleh&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja.&nbsp; Dukun menasihatkan&nbsp; agar&nbsp; kedua&nbsp; suami&nbsp; isteri&nbsp; itu&nbsp; pergi&nbsp; ke&nbsp; negeri&nbsp; Purba untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah mereka perbuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan&nbsp; harinya&nbsp; berangkatlah&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; dengan permaisurinya&nbsp; menuju&nbsp; negeri&nbsp; Purba,&nbsp; sesuai&nbsp; dengan&nbsp; nasihat dukun. Sesampainya di sana langsung mereka jumpai raja Purba dan&nbsp; permaisurinya,&nbsp; untuk&nbsp; meminta&nbsp; maaf.&nbsp; Maaf&nbsp; mereka&nbsp; diterima oleh&nbsp; raja&nbsp; Purba&nbsp; dan&nbsp; permaisuri.&nbsp; Setelah&nbsp; bermaaf-maafan&nbsp; itu kembalilah&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; dan&nbsp; Permaisuri&nbsp; ke&nbsp; negeri Sibolangit. Beberapa&nbsp; lama&nbsp; kemudian&nbsp; hamillah&nbsp; permaisuri.&nbsp; Setelah&nbsp; dua belas&nbsp; bulan&nbsp; dalam&nbsp; kandungan&nbsp; berjaga-jaga&nbsp; menunggu&nbsp; kelahiran anaknya&nbsp; yang&nbsp; pertama.&nbsp; Dengan&nbsp; tidak&nbsp; disangka-sangka&nbsp; nya didengarnya suara dari dalam kandungan permaisuri. Kesempatan itu&nbsp; digunakan&nbsp; oleh&nbsp; Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; untuk&nbsp; menanyakan tentang&nbsp; jenis,&nbsp; jabatannya&nbsp; kelak&nbsp; nama&nbsp; yang&nbsp; dikehendakinya,&nbsp; dan tempat tinggal yang diinginkannya. Dijawab oleh suara itu bahwa jenisnya laki-laki,&nbsp; jabatannya&nbsp; perusak, namanya&nbsp; Tuan&nbsp; Paduka&nbsp; Ni Aji&nbsp; dan&nbsp; tempat&nbsp; tinggalnya&nbsp; di&nbsp; dunia&nbsp; bawah.&nbsp; Keesokan&nbsp; harinya lahirlah bayi itu ke dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah&nbsp; sampai&nbsp; waktunya&nbsp; hamil&nbsp; lagi&nbsp; permaisuri.&nbsp; Seperti halnya&nbsp; dengan&nbsp; anak&nbsp; yang pertama terjadi lagi&nbsp; percakapan&nbsp; antara Tuan&nbsp; Bagunda&nbsp; Raja&nbsp; dengan&nbsp; anak&nbsp; yang&nbsp; masih&nbsp; dalam&nbsp; kandungan permaisuri. Menurut jawaban suara itu, anak yang akan lahir itu adalah&nbsp; laki-laki,&nbsp; pekerjaannya&nbsp; ialah&nbsp; pemelihara&nbsp; dan&nbsp; namanya Tuan&nbsp; Banua&nbsp; Koling,&nbsp; sedang&nbsp; tempat&nbsp; tinggalnya&nbsp; di&nbsp; dunia&nbsp; tengah (bumi).&nbsp; Setelah&nbsp; anak&nbsp; itu&nbsp; lahir&nbsp; diikatlah&nbsp; pinggangnya&nbsp; oleh&nbsp; Tuan Bagunda Raja dengan sutera Jabi-labi digantungkannya di awang-awang.&nbsp; Tempat&nbsp; dia&nbsp; tergantung&nbsp; itulah&nbsp; kemudian&nbsp; yang&nbsp; menjadi dunia kita ini. Sebelum&nbsp; dunia&nbsp; ini&nbsp; terjadi&nbsp; Tuan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; tetap tergantung di&nbsp; awang-awang&nbsp; sehingga&nbsp; hidupnya&nbsp; sangat menderita. Setiap&nbsp; angin&nbsp; bertiup&nbsp; maka&nbsp; terayunlah&nbsp; Tuan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; itu. Setelah&nbsp; Tuan&nbsp; Banu&nbsp; Koling&nbsp; dewasa&nbsp; hamillah&nbsp; kembali&nbsp; sang perrnaisuri.&nbsp; Menjelang&nbsp; hari&nbsp; kelahirannya&nbsp; berlangsung&nbsp; lagi percakapan antara si ayah dengan anak yang masih berada dalam kandungan. Yang&nbsp; akan&nbsp; lahir&nbsp; ini&nbsp; adalah&nbsp; seorang&nbsp; perempuan bernama&nbsp; Di&nbsp; bata&nbsp; Kacikaci&nbsp; bertugas&nbsp; sebagai&nbsp; pendamai&nbsp; di&nbsp; antara saudara-saudaranya dan menyatakan keinginannya untuk&nbsp; tinggal bersama dengan ayah dan bundanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan&nbsp; halnya&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua&nbsp; Koling,&nbsp; tetap&nbsp; juga&nbsp; tergantung&nbsp; di awang-awang.&nbsp; Makanannya&nbsp; setiap&nbsp; hari&nbsp; diantarkan&nbsp; oleh&nbsp; ayam&nbsp; Si Nanggur&nbsp; Dawa.&nbsp; Pada&nbsp; suatu&nbsp; kali&nbsp; bertanyalah&nbsp; ayam&nbsp; itu&nbsp; kepada Tuan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; tentang&nbsp; kemungkinan&nbsp; diciptakannya&nbsp; negeri untuk&nbsp; raja itu.&nbsp; Dijawab&nbsp; oleh&nbsp; Tuan&nbsp; Banua&nbsp; Koling bahwa&nbsp; ia&nbsp; tidak dapat&nbsp; berbuat&nbsp; apa-apa&nbsp; jika&nbsp; tidak&nbsp; dibantu&nbsp; oleh&nbsp; ayahnya.&nbsp; Hal&nbsp; itu dilaporkannya oleh ayam Si Nanggur Dawa ke pada Tuan Bagunda Raja, yang kemudian menciptakan dunia untuk anaknya itu. Pada&nbsp; kali&nbsp; yang&nbsp; lain&nbsp; ditanyakan&nbsp; pula&nbsp; oleh&nbsp; ayam&nbsp; Si&nbsp; Nanggur Dawa&nbsp; tentang&nbsp; perlunya&nbsp; seorang&nbsp; permaisuri&nbsp; untuk&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua Koling yang dijawabnya bahwa&nbsp; hal&nbsp; itu pun terserah kepada orang tuanya. Ketika ayam Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa menyampaikannya kepada raja&nbsp; dan&nbsp; permaisuri&nbsp; di&nbsp; Sibolangit,&nbsp; dilakukanlah&nbsp; usaha-usaha untuk&nbsp; memenuhi&nbsp; ke&nbsp; inginan&nbsp; anaknya&nbsp; itu.&nbsp; Permaisuri&nbsp; mengambil batu&nbsp; boneka&nbsp; dan&nbsp; dibentuknya&nbsp; seperti&nbsp; seorang&nbsp; perempuan, diletakkan di dalam sebuah bakul dengan syarat harus dibiarkan di&nbsp; tempat&nbsp; itu&nbsp; selama&nbsp; empat&nbsp; hari&nbsp; empat&nbsp; malam&nbsp; untuk kesempurnaan&nbsp; kejadiannya.&nbsp; Bakul&nbsp; itu&nbsp; kemudian&nbsp; dibawa&nbsp; oleh ayam&nbsp; Si&nbsp; Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; kepada&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; dengan penjelasan&nbsp; bahwa&nbsp; baku!&nbsp; itu&nbsp; tidak&nbsp; boleh&nbsp; dibuka&nbsp; sebelum&nbsp; sampai waktunya.&nbsp; Karena&nbsp; ingin&nbsp; tahunya&nbsp; tentang&nbsp; apa&nbsp; yang&nbsp; ada&nbsp; di&nbsp; dalam bakul itu baru dua hari dua malam dibukanya bakul itu. Apa yang dilihatnya ialah bayangan seorang manusia yang belum sempurna wujudnya. Karena&nbsp; kesalnya&nbsp; melihat&nbsp; benda&nbsp; itu&nbsp; dilemparkannyalah ke jurang. ltulah yang kemudian menjadi setan.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sampai saatnya hari yang keempat datanglah ayam Si Nanggur&nbsp; Dawa&nbsp; menanyakan&nbsp; apa&nbsp; yang&nbsp; terjadi&nbsp; dengan&nbsp; isi&nbsp; bakul tadinya.&nbsp; Dijawab&nbsp; oleh&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; belum&nbsp; menjadi&nbsp; apa-apa.&nbsp; Untuk&nbsp; kedua&nbsp; kalinya&nbsp; diusahakan&nbsp; lagi&nbsp; hal&nbsp; yang&nbsp; serupa,&nbsp; dan itu&nbsp; pun&nbsp; dibuka&nbsp; juga&nbsp; oleh&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; sebelum&nbsp; sampai waktunya.&nbsp; Yang&nbsp; dilihatnya&nbsp; di&nbsp; dalam&nbsp; bakul&nbsp; itu&nbsp; adalah&nbsp; bayang-bayangan juga yang kemudian dilemparkannya kembali ke jurang. ltulah&nbsp; kemudian&nbsp; yang&nbsp; menjelma&nbsp; menjadi&nbsp; Sidangbela&nbsp; {hantu&nbsp; air). Itulah&nbsp; yang&nbsp; menjadi&nbsp; musuh&nbsp; manusia&nbsp; di dunia.&nbsp; Sebagai&nbsp; usaha terakhir&nbsp; dicoba&nbsp; lagi&nbsp; mengusahakan&nbsp; hal&nbsp; yang&nbsp; sama&nbsp; dan&nbsp; kali&nbsp; ini Tuan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; berhasil&nbsp; mematuhi&nbsp; syarat&nbsp; yang&nbsp; ditentukan oleh&nbsp; orang&nbsp; tuanya,&nbsp; sehingga&nbsp; jadilah&nbsp; permaisuri&nbsp; yang&nbsp; diinginkan itu. Perkawinan Tuan Banua&nbsp; Koling&nbsp; dengan&nbsp; permaisuri&nbsp; itu menghasilkan&nbsp; empat&nbsp; belas&nbsp; orang&nbsp; anak,&nbsp; tujuh&nbsp; laki-laki dan tujuh perempuan. Ketika&nbsp; ditanyakan&nbsp; oleh&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; apa pekerjaan&nbsp; yang&nbsp; disukai&nbsp; oleh&nbsp; anak-anaknya&nbsp; itu,&nbsp; serentak&nbsp; mereka menjawab&nbsp; bersenang-senang&nbsp; saja&nbsp; dan&nbsp; tidak mau&nbsp; bekerja.&nbsp; Karena marahnya&nbsp; mendengar&nbsp; jawaban&nbsp; itu&nbsp; dibunuhinya&nbsp; semua&nbsp; anaknya itu&nbsp; yang&nbsp; kemudian&nbsp; menjelma&nbsp; menjadi&nbsp; tujuh&nbsp; matahari&nbsp; dari&nbsp; yang laki-laki,&nbsp; dan&nbsp; tujuh bulan&nbsp; dari yang perempuan.&nbsp; Itulah&nbsp; sebabnya pada&nbsp; masa&nbsp; dahulu&nbsp; kala&nbsp; siang&nbsp; hari&nbsp; terlalu&nbsp; panas&nbsp; karena&nbsp; adanya tujuh&nbsp; matahati&nbsp; dan&nbsp; malam&nbsp; hari&nbsp; terlalu&nbsp; dingin&nbsp; karena&nbsp; adanya tujuh&nbsp; bulan.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk&nbsp; mengatasi&nbsp; panas&nbsp; dan&nbsp; dingin&nbsp; yang&nbsp; terlalu berlebih-lebihan&nbsp; itu&nbsp; maka&nbsp; oleh&nbsp; Tuhan&nbsp; Banua&nbsp; Koling&nbsp; dibunuhnya matahari yang&nbsp; enam&nbsp; dan&nbsp; begitu pula&nbsp; bulan yang enam.&nbsp; Sehingga yang tinggal satu matahari dan satu bulan. Kemudian&nbsp; permaisuri Tuhan Banua Koling&nbsp; melahirkan&nbsp; lagi&nbsp; delapan&nbsp; orang&nbsp; anak&nbsp; yang masing-masingnya&nbsp; mendapat&nbsp; tempat&nbsp; di&nbsp; Nariti,&nbsp; Purba,&nbsp; Agoni, Daksina,&nbsp; Manganbia,&nbsp; Pustima,&nbsp; Utara&nbsp; dan&nbsp; Arisen.&nbsp; Kepada&nbsp; anak-anaknya&nbsp; itu&nbsp; dipesankannya&nbsp; untuk&nbsp; bersama-sama&nbsp; menjaga keselamatan dunia ini, dan menjauhi sifat-sifat yang merusak. Sesudah&nbsp; itu, lahir&nbsp; lagi&nbsp; sepuluh&nbsp; orang&nbsp; anak,&nbsp; lima&nbsp; orang&nbsp; laki-laki&nbsp; dan&nbsp; lima&nbsp; orang&nbsp; perempuan.&nbsp; Dari&nbsp; merekalah&nbsp; asal&nbsp; usulnya marga&nbsp; yang&nbsp; lima&nbsp; di&nbsp; Tanah&nbsp; Karo,&nbsp; yaitu :&nbsp; Ginting,&nbsp; Karo-karo, Perangin-angin,&nbsp; Sembiring&nbsp; dan&nbsp; Tarigan.&nbsp; Semenjak&nbsp; itu sempurnalah dunia ini beserta isinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tersebutlah permaisuri Inang Seribu Tua yang hidup di kayangan. Pada suatu hari secara tiba-tiba permaisuri itu melahirkan seorang putera yang dinamainya Tuan Bagunda Raja. Orang banyak tidak mengetahui siapa suami Inang Seribu Tua dan oleh sebab itu dipastikan orang bahwa Tuan Bagunda Raja adalah anak Dewa. Beberapa tahun kemudian Tuan Bagunda Raja sudah meningkat dewasa. &hellip; <a href=\"https:\/\/ceritarakyat.shop\/?p=5728\" class=\"more-link\">Read More <span class=\"screen-reader-text\">Manuk Si Nanggur Dawa<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5730,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"elementor_header_footer","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[82,91],"tags":[],"class_list":["post-5728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ceritarakyat","category-melayu-pesisir"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5728"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5728\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5731,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5728\/revisions\/5731"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5730"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritarakyat.shop\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}